Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Maret 2012

Business sense


Business is an individual business activities organized to produce and sell goods and services in order to gain advantage in meeting and satisfying the needs of the community. Business is all the activities organized by people who have been in the field of commerce and industries that provide goods and services to maintain and improve standards and quality of life. Business is extremely important role in public life, because through the business activities of a company will be able to meet every need (needs) desires (wants) from a wide range of consumer society, so that consumers feel satisfied (customer satisfactions).

Etymologically, the business means the situation where a person or group of people busy doing the job that generates profits. The word "business" itself has three uses, depending skupnya - use of the singular word can refer to business entities, namely the unity of the juridical (legal), technical, and economic aims for profit or gain. Wider usage can refer to a particular market sector, such as "television business." The most widespread usage refers to all activities undertaken by community providers of goods and services. However, the definition of "business" the right is still a matter of debate to this day.

sources:
http://id.wikipedia.org/wiki/Bisnis

Kamis, 01 Desember 2011

teknik-teknik pengumpulan data

Teknik Pengumpulan Data
Dalam sebuah penelitian atau kita melakukan penelitian, kita harus melakukan pengumpulan data untuk menunjang penelitian tersebut. Teknik pengumpulan data antara lain
1. Interview (wawancara).
Teknik ini merupakan salah satu bentuk teknik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam pengumpulan data kualitatif maupun pengumpulan data kuantitatif. Interview juga merupakan teknik yang efektif digunakan dalam mengembangkan suatu system. Wawancara adalah sebuah pertukaran informasi antara pewawancara dengan yang diwawancarai. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka individual atau kelompok. Wawancara dibedakan menjadi dua macam, yaitu
a. Wawancara terstruktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh.
b. Wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.
Dalam wawancara, peneliti juga harus membuat daftar pertanyaan, ada dua tipe pertanyaan dalam wawancara, yaitu
a. Pertanyaan Open-Ended (Terbuka) yaitu pertanyaan yang menggambarkan pilihan bagi orang yang diwawancarai untuk merespons. Dalam menjawab tipe pertanyaan ini, mereka dapat memberikan respons atau jawaban yang bersifat bebas dan terbuka.
b. Pertanyaan Closed-Ended, pewawancara lebih mudah mengontrol yang diwawancarai, karena apa yang akan ditanyakan sudah pasti dan menghindari yang diwawancarai menjawab bebas.
Struktur pertanyaan, antara lain
a. Pyramid yaitu dari pertanyaan tertutup (Closed-Ended) sampai pertanyaan yang terbuka (Open-Ended).
b. Corong yaitu dari pertanyaan yang terbuka (Open-Ended) sampai yang tertutup (Closed-Ended).
c. Wajik yaitu dimulai dengan pertanyaan tertutup (Closed-Ended) lalu terbuka (Open-Ended) dan diakhiri pertanyaan tertutup (Close-Ended).
Kelebihan Teknik wawancara.
a. Wawancara memberikan kesempatan kepada pewawancara untuk memotivasi orang yang diwawancarai untuk menjawab dengan bebas dan terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti.
b. Memungkinkan pewawancara untuk mengembangkan pertanyaan yang sesuai dengan situasi yang sedang berkembang.
c. Pewawancara dapat menanyakan kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu terjadi.
d. Pewawancara dapat menilai kebenaran jawaban yang diberikan dari gerak-gerik dan raut wajah yang diwawancarai.
Kekurangan teknik wawancara, antara lain
a. Proses wawancara membutuhkan waktu yang lama.
b. Keberhasilan hasil wawancara sangat tergantung dari kepandaian pewawancara untuk melakukan hubungan antar manusia.
c. Wawancara tidak selalu tepat untuk kondisi-kondisi tempat yang tertentu.
d. Wawancara sangat mengganggu waktu dari orang yang diwawancarai, bila waktu yang dimiliknya sangat terbatas.
2. Observasi
Observasi (pengamatan) dalam istilah sederhana adalah proses peneliti dalam melihat situasi penelitian. Observasi memiliki banyak tujuan. Sebagai pengamat dapat menentukan apa yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan, siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, berapa lama dikerjakan, dimana dikerjakan, dan mengapa dikerjakan. Unsur-unsur yang harus diamati saat observasi adalah:
a. Lokasi kantor
b. Penempatan meja pembuat keputusan
c. Alat tulis kantor
d. Property seperti computer dan kalkulator
e. Jurnal dagang dan Koran
f. Pencahayaan dan warna
g. Cara berpakaian oleh pembuat keputusan
Kelebihan teknik observasi, yaitu
a. Data yang dikumpulkan melalui observasi cenderung mempunyai keandalan yang tinggi.
b. Penganalisis melalui observasi dapat melihat langsung apa yang sedang dikerjakan.
c. Dengan observasi, penganalisis dapat menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan-kegiatan.
Kekurangan teknik observasi, yaitu
a. Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman.
b. Pekerjaan yang sedang diobservasi mungkin tidak dapat mewakili suatu tingkat kesulitan pekerjaan tertentu.
c. Observasi dapat mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan.
d. Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari biasanya dan sering menutupi kejelekannya.
3. Angket atau Kuesioner
Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai metose yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Kuesioner adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan-pertanyaan untuk tujuan khusus yang memungkinkan penganalisis untuk mengumpulkan data mengenai sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik dari orang yang berada di dalam organisasi serta pendapat dari responden yang dipilih. Responden mempunyai kebebasan untuk memberikan jawaban atau respon sesuai dengan persepsinya. Dalam membuat kuesioner, harus dilalui prosedur.
a. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
b. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
c. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-varibel yang lebih spesifik dan tunggal.
d. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligusn untuk menentukan teknik analisisnya.
Ada dua jenis format kuesioner, yaitu
a. Format bebas (free format) berisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi oleh responden di tempat yang sudah disediakan.
b. Kuesioner format pasti (fixed format), kuesioner tipe ini mempunyai beberapa bentuk pertanyaan, yaitu
i. Check-off Question. Jenis dari pertanyaan-pertanyaan ini dibuat sehingga responden dapat memeriksa jawaban-jawaban yang sesuai.
ii. Yes/No Question. Jenis dari pertanyaan ini memungkinkan responden untuk menjawab “YA” atau “TIDAK”.
iii. Opinion / Choice Question. Jenis dari pertanyaan-pertanyaan ini memungkinkan responden untuk memberikan pendapatnya.

Kelebihan teknik kuesioner, yaitu
a. Kuesioner baik untuk sumber data yang banyak dan tersebar.
b. Responden tidak merasa terganggu, karena dapat mengisi kuesioner dengan memilih waktunya sendiri.
c. Kuesioner secara relatif lebih efisien untuk sumber data yang banyak.
d. Karena kuesioner baisanya tidak mencatumkan identitas responden, maka hasilnya dapat lebih objektif.
Kekurangan teknik kuesioner, yaitu
a. Kuesioner tidak menggaransi responden untuk menjawab pertanyaan dengan sepenuh hati.
b. Kuesioner cenderung tidak fleksibel, artinyaa pertanyaan yang harus dijawab terbatas yang dicantumkan di kuesioner saja, tidak dapat dikembangkan lagi sesuai dengan situasinya.
c. Pengumpulan sampel tidak dapat dilakukan secara bersama-sama dengan daftar pertanyaan.
d. Kuesioner yang lengkap sulit untuk dibuat.
4. Dokumentasi
Suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen-dokumen tersebut dipilih sesuai dengan tujuan dan focus masalah. Dengan demikian metode dokumentasi dapat dilaksanakan dengan dua cara, yaitu
a. Pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya.
b. Check-list, daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya.
5. Pengambilan Sample (Sampling)
Pengambilan sampel (sampling) adalah pemilihan sejumlah item tertentu dari seluruh item yang ada dengan tujuan mempelajari sebagian item tersebut untuk mewakili seluruh itemnya. Sampling adalah aplikasi dari prosedur tertentu yang kurang dari 100% item dalam suatu survey untuk mengevaluasi atau estimasi beberapa karakteristik atau nilai dari seluruh item yang akan digunakan hingga selesai. Sebagian item yang dipilh disebut sampel, sedangkan seluruh item yang ada disebut populasi. Cara pengambilan sampel, yaitu
a. Pengambilan sampel secara keputusan (judgemental sampling) adalah penentuan sampel dan pemilihan masing-masing item sampelnya diambil dengan dasar keputusan yang masuk akal menurut si pengambil sampel.
b. Pengambilan sampel secara statistic (statistical sampling), cara ini didasarkan secara random, sehingga semua item-item di populasi mempunya kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel.
Sampling statistic maupun non statistic tahapannya sama, hanya dalam sampling statistic tidak menggunakan formula matematika dan table statistic. Tahapannya antara lain
a. Menentukan tujuan sampling.
b. Mendefinisikan populasi dan unit sampling.
c. Menspesifikasikan karakteristik.
d. Menentukan ukuran sampel.
e. Menetukan metode pemilihan sampel dan melaksanakannya. Ada tiga metode sampling:
i. Random number.
ii. Sampling sistematis.
iii. Sampling blok.
f. Mengevaluasi hasil sampel dan membuat suatu kesimpulan.




Sumber:
http://febriani.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.1
http://skripsimahasiswa.blogspot.com/2010/10/modul-6-teknik-pengumpulan-data.html
http://www.candilaras.co.cc/2008/11/teknik-dan-instrumen-pengumpulan-data.html

Selasa, 08 November 2011

LAPORAN


Laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggungjawab yang dibebankan kepadanya.
Sebuah Laporan bertolak dari beberapa dasar yaitu :
1.      Pemberi laporan, pemberi laporan dapat berupa perseorangan, sebuah panitia yang ditugaskan untuk maksud tertentu.
2.      Penerima laporan, yang menerima laporan itu adalah orang atau badan yang menugaskan, atau orang atau badan yang dianggap perlu mendapatkan laporan itu.
3.      Tujuan laporan, umumnya berkisar pada hal-hal untuk mengatasi suatu masalah, untuk mengambil suatu keputusan yang lebih efektif, mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah, untuk menemukan teknik-teknik baru, dan sebagainya.

Sifat Laporan
Laporan yang baik harus ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas sehingga dapat menimbulkan pengertian yang tepat, bukan kesan atau sugesti. Isinya harus diurutkan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga masuk akal. Fakta-fakta atau bahan-bahan yang disajikan pelapor pun harus dapat menimbulkan kepercayaan.

Macam-Macam Laporan
a.       Laporan berbentuk formulir isian
b.      Laporan berbentuk surat
c.       Laporan berbentuk memorandum
d.      Laporan perkembangan dan laporan keadaan
e.       Laporan berkala
f.       Laporan laboratoris
g.      Laporan formal dan semi formal

Struktur Laporan Formal
a.       Halaman Judul\
b.      Surat Penyerahan
c.       Daftar Isi
d.      Ikhtisar dan Abstrak
e.       Pendahuluan
f.       Isi Laporan
g.      Kesimpulan dan Saran
h.      Bagian Pelengkap

Bahasa Sebuah Laporan
Bahasa yang digunakan dalam sebuah laporan formal haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. Bahasa yang baik tidak perlu berarti bahwa laporan itu harus mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan, tetapi harus jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lainnya, antara sat kalimat dengan kalimat yang lain. Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari, kecuali penggunaan kata “kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau satuan tugas.

Laporan Buku
Laporan buku adalah suatu macam laporan untuk kepentingan pendidikan atau perkuliahan di Perguruan Tinggi. Laporan buku ini bertujuan untuk mendorong mahasiswa membaca buku-buku yang diwajibkan atau dianjurkan, serta meningkatkan kemampuan mereka memahami isi buku-buku tersebut. Laporan buku tidak perlu mengikuti persyaratan bagi laporan formal, cukup terdiri dari judul, pendahuluan, isi laporan, kesimpulan, dan saran.

Penutup
Mahasiswa, pelajar, karyawan atau siapa saja dapat melakukan atau membuat sebuah laporan. Baik laporan umum maupun laporan buku sebenarnya mempunyai titik singgung dengan ringkasan. Keduanya merupakan penyajian suatu pengetahuan yang lebih luas mengenai suatu hal, tetapi dapat dibuat secara lebih singkat untuk maksud tertentu. Keduanya mempunyai perbedaan dengan ringkasan, yaitu ringkasan tidak mengandung pendahuluan dan kesimpulan.

Kamis, 27 Oktober 2011

Macam-Macam Penalaran


Nama : Heru Styawan
Kelas : 3EB02
NPM  : 25209944
Tugas : Sofsklill Bahasa Indonesia 2
  1. I. Latar Belakang Masalah
Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar. Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah. Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif.  Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala. Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi. Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.
  1. II. Permasalahan
  2. III. Pembahasan
    1. Pengertian Penalaran
  1. Definisi penalaran ?
  2. Defiisi penalaran induktif  ?
  3. Macam – macam penalaran iduktif ?
  4. Definisi penalaran deduktif ?
  5. Macam – macam penalaran deduktif ?
Penalaran adalah proses berfikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Kegiatan penalaran mungkin bersifat ilmiah atau tidak ilmiah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan sebagai penalaran induktif dan penalaran deduktif. Perbedaan dasar diantara keduanya dapat disimpulkan dari dinamika deduktif dengan progesi secara logis dari bukti – bukti umum kepada kebenaran atau kesimpulan yang khusus sementara dengan induktif, dinamika logisnya justru sebaliknya dari bukti – bukti khusus kepada kebenaran atau kesimpulan yang umum.
  1. Penalaran Induktif
1.     Pengertian Penalaran Induktif
Penlaran induktif adalah proses penalaran untuk manari kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan fakta – fakta yang bersifat khusus, prosesnya disebut Induksi. Penalaran induktif tekait dengan empirisme. Secara impirisme, ilmu memisahkan antara semua pengetahuan yang sesuai fakta dan yang tidak. Sebelum teruji secara empiris, semua penjelasan yang diajukan hanyalah bersifat sentara. Penalaran induktif ini berpangkal pada empiris untuk menyusun suatu penjelasan umum, teori atau kaedah yang berlaku umum.
Contoh penalaran induktif :
Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
2.     Macam – Macam Penalaran Induktif
Ada 3 jenis penalaran induksi :
a.      Generalisasi
Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain.
Macam – macam generalisasi :
  • Generalisasi sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.
  • Generalisasi tidak sempurana
Adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
b.     Analogi
Adalah membandingkan dua hal yang banyak persamaanya. Kesimpulan yang diambil dengan jalan analogi, yakni kesimpulan dari pendapat khusus dari beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan situasi yang satu dengan yang sebelumnya.
C.  Penalaran Deduktif
1.     Pengertian Penalaran Deduktif
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk manarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses penalaran ini disebut Deduksi. Kesimpulan deduktif dibentuk dengan cara deduksi. Yakni dimulai dari hal-hal umum, menuku kepada hal-hal yang khusus atau hal-hal yang lebih rendah proses pembentukan kesimpulan deduktif terebut dapat dimulai dai suatu dalil atau hukum menuju kepada hal-hal yang kongkrit.
2.     Macam – Macam Penalaran Deduktif
Macam-macam penalaran deduktif diantaranya :
a.      Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan.
Contohnya:
Semua manusia akan mati
Amin adalah manusia
Jadi, Amin akan mati (konklusi / kesimpulan)
b.     Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh :
Proses fotosintesis memerlukan sinar matahari
Pada malam hari tidak ada matahari
Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis
  1. IV. Kesimpulan
Dari berbagai penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa penalaran dalam prosesnya ada 2 macam yaitu penalaran Induksi dan penalaran Deduktif.
Penalaran Induktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut Induksi. Dalam penalaran Induktif ini ada 3 jenis penalaran Induktif yaitu Generalisai, Analogi, dan Hubungan sebab akibat ataupun hubungan akibat–sebab.
Penalaran Deduktif adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan fakta-fakta yang bersifat umum. Prosesnya disebut Deduksi. Jenis penalaran Deduktif ini diantaranya ada Silogisme dan Entinem.
  1. V. Daftar Pustaka
Ahmadi, H.Abu . 1998 . psikologi Umum . jakarta : PT Rineka Cipta
Mustakim.1991.Bahasa Indonesia. Jakarta:Pusat Bahasa.
http://www.mizan-poenya.co.cc/feeds/posts/default

Pengaruh Krisis Global terhadap Pedagang Kaki Lima

Pengaruh Krisis Global terhadap Pedagang Kaki Lima
Pedagang kaki lima adalah orang yang dengan modal yang relatif sedikit berusaha di bidang produksi dan penjualan barang-barang (jasa-jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam masyarakat, usaha tersebut dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam suasana lingkungan yang informal (Winardi dalam Haryono, 1989). Pedagang kaki lima pada umumnya adalah self-employed, artinya mayoritas pedagang kaki lima hanya terdiri dari satu tenaga kerja. Modal yang dimiliki relatif tidak terlalu besar, dan terbagi atas modal tetap, berupa peralatan dan modal kerja.  pekerjaan sebagai pedagang kaki lima merupakan salah satu pekerjaan yang relatif tidak terpengaruh krisis ekonomi karena dampak krisis ekonomi tidak secara nyata dirasakan oleh pedagang kaki lima. Oleh karena itu diperlukan kesamaan gerak dan langkah pedagang kaki lima melalui keberadaan organisasi-organisasi pedagang kaki lima. Pemberdayaan melalui organisasi pedagang kaki lima perlu diupayakan. namun demikian perhatian yang diberikan belum optimal karena masih sebatas mengorganisir dan mengatur keberadaan pedagang kaki lima dan dalam kondisi krisis ekonomi ini organisasi kurang mampu melakukan pemberdayaan (empowerment) pedagang kaki lima. Berbagai kinerja yang dihasilkan pedagang kaki lima pada saat krisis ekonomi menunjukkan tidak ada kaitan yang jelas antara upaya organisasi pedagang kaki lima dengan perubahan kinerja usaha.
Menurut saya Pedagang kaki lima itu jangan digusur tapi justru sediakan tempat untuk berdagang. Ini pengaman kita untuk sektor riil dalam menghadapi krisis finansial global. Bagaimanapun organisasi pedagang kaki lima belum mampu membantu pedagang kaki lima dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi dan keadaan ini sebenarnya menjadi tantangan yang masih harus diperhatikan oleh pihak-pihak terkait.
Sampai saat ini dampak krisis global masih terasa. Bagaimana krisis ini di mata seorang pedagang kaki lima ?
Permisi pak, saya ingin bertanya, dampak krisis global menurut bapak apanya ? Menurut seorang bapak pedagang kaki lima, apa itu masss, krisis global ?? saya itu tidak mengerti krisis global mas .... Krisis global itu pak, krisis ekonomi yang berdampak pada ekonomi dan keuangan sebuah negara. Oh, begitu ya mas,... ia pak, jadi tanggapan bapak seperti apa terhadap dagangan bapak ???  ya itu mas, saya itu merasa kebutuhan saya untuk berdagang itu naik mas, jadi saya pun bingung mas, kalau saya naikkan harga dagangan saya  nanti sepi dan  pelanggan saya pindah ketempat yang lebih murah. Bapak tidak takut mengalami kerugian ? masalah rugi dan untung itu  sudah ada yang mengatur di atas.
Bapak pedagang kaki lima tersebut tetap sabar dan teguh mengahadapi kesulitan hidup yang di alaminya walaupun kirisis global ekonomi sedang melanda negara.